Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts

Monday, March 16, 2020

Ijazah KH Hasyim Asy’ari dalam Menghadapi Pagebluk Penyakit, Termasuk Virus Corona atau Covid 19


Ijazah KH Hasyim Asy’ari dalam Menghadapi Pagebluk Penyakit, Termasuk Virus Corona atau Covid 19

Malam ini diadakan haul KH Yahya bin Abdul Hamid Chasbullah di Tambakberas. Mauidzah hasanah disampaikan ol eh KH. Masduqi Abdurrahman Al Hafidz (Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotu Tahfidzi Qur'an Perak Jombang). Dia mengijazahkan jika ada wabah penyakit agar membaca doa berikut:

لي خمسة أطفي بها  حر الوباء الحا طمة 
المصطفى والمرتضى وابناهما والفاطمة

(Li khomsatun uthfi bihaa  kharal wabaail khatimah
Al-mustofaa wal murtadzoo wabna humaa wal faathimah

Artinya:
Aku punya Lima orang kekasih
Berkat mereka sakit panasku sembuh
Al Musthafa (Muhammad Saw)
Al Murtadha (Ali bin Abi Thalib)
Dua orang puteranya:
Hasan dan Husein
Dan Fatimah.)

Selesai acara, saya bertanya kepada beliau tentang doa di atas. Dia berkisah dari zaman dulu terjadi pagebluk yang kalau pagi ada orang sakit, maka sorenya meninggal. Lalu KH. Hasyim Asy'ari mengijazahkan doa tersebut untuk KH. Romli Rejoso, KH. Wahab Chasbullah Tambakberas, KH. Bisri Denanyar, dan pondok Semelo Perak.

****
Kedua syair diatas sering dibuat puji-pujian di langgar-langgar atau musholla.
Baca selengkapnya

Wednesday, July 17, 2019

Google For Publisher Semarang, Event Google Yang Pertama Kali Aku Ikuti

Meski sudah cukup lama aku membuat blog dan juga YouTube. Tapi masih banyak hal yang belum aku pahami dengan bagus. Masih perlu relasi dan informasi yang harus aku cari.
Suasana acara Google For Publishers di Semarang
GFP Semarang  yang diadakan 17 Juli 2019 di Hotel Santika Premiere Semarang, merupakan pengalaman baru dalam mengembangkan semangat blogging yang kujalani. Entah nanti goalnya seperti apa. Paling engga pengalaman sudah aku kantongi.
Sesi Diskusi Panelis GFPSemarang
Ada banyak materi yang disampaikan. Tapi dari sekian materi, masih sedikit istilah yang belum aku pahami. Harus ditela'ah berulang-ulang. Ya, namanya masih newbe, hehee...

Oya, paling tidak adsense yang aku kelola sudah aktif. Meski bisa dikatakan, hidup segan mati pun tak mau.

Baca selengkapnya

Sunday, January 13, 2019

Lomba Cipta Karya Puisi Nasional


Hallo guys

Berita baik untuk seluruh pecinta sastra, Laskar Pujangga mengadakan acara Mahakarya Laskar Pujangga II (MANGGA II)
Maha Karya Laskar Pujangga (MANGGA)  hadir kembali di tahun 2019, dengan tema
"Melangitkan Asa Dalam Bingkai Sastra"

Pastinya,  MANGGA kali ini ga kalah awesome dengan MANGGA sebelumnya
MANGGA II akan menghadirkan lomba yang tentunya bisa membuat semangat para pecinta sastra bergejolak hingga ke titik didih yang paling panas

Nah, pastinya udah gak sabar kan untuk berpartisipasi di acara ini?  Berikut beberapa info penting tentang MANGGA II:

A. Perlombaan
🎉🎉 Cipta Puisi Nasional 🎉🎉

B. Tema lomba cipta puisi
♥️"Harapan"♥️

C. Pendaftaran
📆 Hari/Tanggal: Sabtu, 12 Januari-Selasa, 12 Februari 2019

D. Cara pendaftaran (Online)
 👉 Isi formulir di: http://bit.ly/2EkzAWb (satu formulir untuk satu alamat)
👉 Membayar biaya Registrasi sebesar Rp.35.000  ke rekening :
👉 BNI 450238906 an. Khusnul Khotimah
👉 BRI 122901010467502 an. Marisa Rakhmashifa
👉 konfirmasi ke kontak yang telah tertera dengan menyertakan bukti transfer

E. Hadiah
🥇Juara 1: Uang tunai Rp. 1.000.000 dan e-sertifikat
🥈 Juara 2: Uang tunai Rp. 750.000 dan e-sertifikat
🥉 Juara 3: Uang tunai Rp. 500.000 dan e-sertifikat
📝 E-sertifikat untuk semua peserta

F. Persyaratan
⭕ Wajib memfollow ig @laskarpujangga_
⭕ Membagikan pamflet lomba lalu mention 5 teman dan tag instagram @laskarpujangga_ serta  bagikan info lomba ke 5 grup whatsapp/line. Kirimkan bukti berupa screenshot ke narahubung
⭕ Hastag #Laskarpujangga #dengansastraakumenggetarkandunia #mahakaryalp2 #lombapuisionlinelp #harapan


Nah begitulah sedikit info tentang MANGGA 2019, info lanjutan bisa cek terus di:

Ig:
@Laskarpujangga_
@Laskarpujangga_

CP:
📞 0851 031 751 66 (Ike)
📞 0853 390 727 50 (Cahya)


Sekian dan terimakasih
Partisipasi anda sangat kami harapkan

🔊Laskar Pujangga
_Dengan Sastra Aku Menggetarkan Dunia_

Selamat Berkarya💙💚

Baca selengkapnya

Tuesday, July 17, 2018

KH. Hasan Anwar, Karib Muassis NU Kelahiran Demak

Namanya mungkin tidak seterkenal KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah. Tapi, kiprahnya sangat dekat dengan ketiga tokoh pendiri atau muassis NU. Ia adalah teman sekaligus santri dari ketiga ulama besar tersebut.
Ia mempunyai andil sangat besar dalam membantu mendirikan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dan namanya hingga kini, sangat harum di Kabupaten Grobogan, Jateng. Nama kecilnya adalah Sarman.
Beliau dilahirkan pada tahun 1878 M, dari pasangan Syarif dan Salimah, petani kecil di Desa Ngluwuk, Dempet, Kabupaten Demak. Sarman memiliki empat orang saudara, yakni Sukir, Mataham, Sagirah, dan Sijah. Sarman merupakan nama pemberian kedua orang tuanya.
Namun, saat mondok di Tebuireng, namanya berubah menjadi Hasan Anwar. Nama itu diberikan langsung oleh Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari atas bantuannya dalam menghadapi para perusuh di sekitar pesantren.
Bela Mbah Hasyim
Awalnya, ia merasa prihatin yang mendalam atas banyaknya hinaan dan ejekan yang diterima KH Hasyim Asy’ari. Sebab, hampir setiap saat ulama pendiri jamiyah NU itu dilempari dengan kotoran manusia. Jalan-jalan di sekitar Pesantren Tebuireng selalu dipenuhi dengan duri.
Atas hal itu, Sarman memberanikan diri memohon izin kepada KH Hasyim Asy’ari untuk menghadapi para perusuh itu. Namun Mbah Hastim tidak mengizinkan. Ia pun bersabar dan menunggu perintah atau izin.
Apa hendak dikata, saat izin belum juga diberikan dan kondisi terus genting, terjadilah peristiwa yang membuat Sarman marah. Saat malam hari, ia keluar asrama pesantren untuk ke masjid.
Jalan yang akan dilewati Mbah Hasyim ia bersihkan. Saat itulah sekelompok preman dan perusuh menantang dirinya. Maka, dengan prinsip ‘lawan jangan dicari, dan kalau ketemu musuh maka jangan lari’, ia pun melawan perusuh.
Dalam perkelahian itu, sebanyak 12 orang perusuh tewas di tangannya. KH Hasyim yang kaget mendengar kegaduhan di luar, segera menemui. Mbah Hasyim mendapati tubuh Sarman bersimbah darah, dan sebanyak 12 orang tergeletak tak bernyawa di sekelilingnya.
Sarman tidak terluka. Hanya luka-luka dari perusuh itulah yang membuat tubuhnya berlumuran darah. Sarman menyampaikan bahwa dirinya membela diri, karena sedang membersihkan kotoran manusia dan duri di sepanjang jalan, dan tiba-tiba diajak berkelahi para perusuh.
Nama Hasan Anwar
Menyaksikan hal itu, KH Hasyim Asy’ari kemudian memerintahkan para santri untuk segera menguburkan jenazah para perusuh dalam satu lubang. Dan sejak kejadian tersebut, Mbah Hasyim menjuluki dan memberinya nama Hasan Anwar, yang berarti lelaki yang baik hati dan selalu bercahaya dalam kegelapan.
Ia adalah santri generasi pertama di Tebuireng. Hasan Anwar juga berteman baik dengan Maksum (KH Maksum), pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang, Jateng. Di Tebuireng, ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama, mulai dari fiqih, tafsir, nahwu, dan lainnya.
Namun, di saat KH Hasyim berhalangan, dirinya menjadi badal (pengganti) untuk mengajar santri dan rekan-rekannya. Sebelum mondok dan membantu di Pesantren Tebuireng, Hasan Anwar mondok di berbagai pesantren di Jawa Tengah.
Karena itu, tak heran ia banyak dimintai bantuan KH Hasyim Asy’ari, termasuk saat mendirikan NU pada 31 Januari 1926. Ia tinggal di Tebuireng selama beberapa tahun. Selepas dari pesantren legendaris tersebut, Hasan Anwar melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Jesromo Lumajang, dan Cempaka di Surabaya di bawah asuhan KH Manshur.
Selepas dari kedua pesantren itu, Hasan Anwar meneruskan ke Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura, yang diasuh KH Kholil. Tak kurang dari delapan tahun ia menuntut ilmu dan mengabdi di pesantren Bangkalan ini. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan di Makkah, selama lebih kurang tiga tahun.
Belajar di Tanah Suci
Di kota suci tersebut ia belajar langsung kepada para ulama terkenal dari Indonesia yang menjadi guru di Masjidil Haram, seperti Syekh Abdullah Sunkara, Syekh Ibrahim al-Huzaimi dan Syekh Manshur. Setelah dirasa cukup, ia pun kembali ke Tanah Air, ke kampung halamannya di Desa Ngluwak, Dempet, Demak.
Ternyata ayahandanya sudah wafat, sedangkan ibunya ikut dengan saudara kandung Hasan Anwar yang menikah dengan warga Gubug, Purwodadi, Grobogan. Di Gubug ini, KH Hasan Anwar membantu Kiai Jalil (Jalal) untuk mengajar mengaji warga sekitar di mushala, tepatnya di sebalah timur Pasar Gubug.
Melihat ketekunan KH Hasan Anwar dalam mengajar mengaji, Kiai Jalil berkenan mengambil menjadi menantu. Ia pun menikah dengan salah seorang putri Kiai Jalil. Hingga akhir hayatnya, KH Hasan Anwar menikah dengan tiga orang istri, yakni Kalimah binti Kiai Marwi, Maemunah binti Kiai Samsuri, dan Muntamah binti Kiai Abdul Jalil (Jalal).
Pernikahannya dengan Kalimah tidak dikaruniai anak, sedangkan dengan Maemunah memiliki tujuh orang putra-putri (Mahfudhoh, Mansuron, Sarijah, Ruqoyah, Saerozi, Juned, dan Romlah). Adapun buah pernikahan dengan Muntamah mendapat empat putra-putri, yakni Ahmad Syahid (yang kelak menjadi penerus perjuangan KH. Hasan Anwar), Zaenudin, Khumaidi, dan Saidah.
Pejuang Kemerdekaan
Kebencian KH Hasan Anwar terhadap penjajah Belanda sudah memuncak. Ia tak tahan melihat rakyat Indonesia dihina dan dijajah. Bersama para santri di Gubug, ia menyerang Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, khususnya di Grobogan.
Belanda yang mengetahui maksud tersebut berusaha membujuk dan bekerja sama. Ajakan itu ditolak, dan Belanda pun marah. Mereka ingin menjeblos KH Hasan Anwar ke penjara. Karena tahu kalau dirinya akan ditangkap Belanda, ia pergi ke pesantren di daerah Klambu.
Bersama sejumlah santri dan laskar fi sabilillah, KH Hasan Anwar menyusun kekuatan untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi yang sudah merdeka pada 17 Agustus 1945. Ratusan pasukan Belanda terbunuh.
Sayang, kekuatan tidak seimbang. Pertempuran yang terjadi di dekat markas Belanda itu, beliau gugur bersama 19 orang laskar fi sabilillah. Beliau wafat sebagai syuhada dengan menyungging senyum.
Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahi dengan gelar Pahlawan Pejuang Kemerdekaan. Namanya sangat harum hingga saat ini. Masyarakat Tionghoa di sekitar Gubug sangat mengagumi ketokohannya. Sebab, atas jasanya, warga Tionghoa merasakan hidup damai dan tenteram dari gangguan perampok.
Banyak cerita karomah seputar KH Hasan Anwar yang melegenda di Gubug. Konon, ia memiliki harimau. Setiap kali bersilaturahim dengan gurunya, Syekh Ibrahim, harimau itu selalu menyertai. Ia bahkan mengendarai harimau tersebut.
Tak jarang, Syekh Ibrahim mengingatkannya untuk tidak menambatkan harimau itu secara sembarangan, sebab khawatir akan melukai para santri. Namun tak banyak yang melihat harimau itu secara kasat mata. Hanya orang tertentu yang bisa menyaksikan. Wallahu a’lam.


Sumber: www.pwnujatim.or.id
Baca selengkapnya

Wednesday, November 22, 2017

LOMBA CIPTA PUISI ASEAN-2 2018

DEMA FTIK IAIN Purwokerto
Proudly present LOMBA CIPTA PUISI ASEAN-2 2018

Setelah sukses menggelar LCP ASEAN-1 2017 kami kembali lagi dengan lebih fresh, new, dan lebih keren lagi.
Dengan mengusung tema 'PERDAMAIAN' kami mengundang segenap warga negara ASEAN untuk berpartisipasi mengirimkan puisi terbaiknya dalam acara LOMBA CIPTA PUISI ASEAN-2 2018.
100 karya terbaik akan dibukukan dalam “Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-2” dan menjadi tamu istimewa saat launching buku yang bertepatan dengan acara Temu Penyair ASEAN Jilid 2 di IAIN Purwokerto.


Baca selengkapnya

Wednesday, May 10, 2017

Perkembangan Teater di Demak Mati Suri

Fuad (tengah) salah satu pemain dari Demakomunal yang pentas spontanitas (Foto: Yosua)
Fuadladotcom - Perkembangan seni teater di Kabupaten Demak sedang mengalami kefakuman dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal itu berpengaruh pada minimnya pementasan-pementasan yang menghibur dan sarat makna di tengah-tengah masyarakat. Demikian itu yang dikatakan oleh Sutikno, salah satu pegiat teater di Kabupaten Demak kepada Fuadladotcom setelah menyaksikan pentas teater Kuncup Mekar di Citra Alam Pondok Inap, Jumat (5/5) malam.



“Diakui atau tidak, 10 tahun kebelakang teater di Demak sedang miskin kreatifitas hal itu terbukti dengan tidak adanya regenerasi yang baik yang berimbas pada minimnya pentas teater,” katanya.

Ngatmo, salah satu pemain Teater Kuncup Mekar (Foto: Evin)

Sutikno mengatakan, jika kefakuman tersebut disebabkan oleh beberapa hal sehingga dalam perkembangannya diakui harus tertinggal dengan kota-kota tetangga seperti Jepara, Kudus dan Semarang. Minimnya apresiasi dari berbagai pihak dan institusi cukup berpengaruh dengan hal tersebut, mulai dukungan dari orang tua, institusi sekolah, bahkan pemerintah itu sendiri. “Sudahkan kesenian itu menjadi sebuah prioritas dari bagian dari sebuah pembangunan atau belum. Padahal dengan sedikit perhatian dan sentuhan saja, saya kira akan sangat berpengaruh terhadap kreatifitas pemuda Demak,” ujar pegiat Toh Teater itu.



Diakui, keterbatasan ruang untuk berproses di Demak masih menjadi kendala teknis, namun diluar itu persoalan mentalitas dari para pegiat teater di Demak sendiri banyak yang belum terasah meskipun ada beberapa karya sudah diakui dan diterima di sebagian kalangan. “Di Kecamatan Wedung misalnya, pentas sudah sering dilakukan dan hasilnya memang bagus, namun keberanian untuk berkreatifitas lebih di lingkup yang lebih besar masih belum pernah coba,” ungkapnya.



Teater Kuncup Mekar sendiri mementaskan naskah yang berjudul Chanda yang mana didalamnya mencoba mengingatkan kembali penonton kepada permainan tradisional dan dolanan-dolanan anak. Edi Sukirno yang merupakan sutradara pementasan, menuturkan jika dipilihnya Demak bukan tanpa alasan yaitu menghidupkan kembali geliat seni teater di Kota Wali. “Kami melihat perkembangan teater di Demak sedang mati suri, namun dengan pentas ini diharapkan masyarakat akan melihat bahwa teater adalah hal yang menyenangkan, disamping itu ada banyak hal yang bisa diambil salah satunya yaitu karakter kedisipilinan,” ujarnya.



Sementara itu, Fuad Lathif, salah satu pelaku kreatif Demakomunal. Berharap dengan pentasnya teater asal Kota Kudus tersebut, diharapkan akan menjadi sebuah stimulan untuk perkembangan teater di Demak. Dengan begitu, animo penonton pun juga meningkat dan tentunya akan muncul wadah-wadah baru khususnya bagi pemuda untuk berekspresi dan tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Sudah ada perencanaan dan komitmen untuk kedepan, namun yang terpenting saat ini ialah saling berkomunikasi terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan pementasan sendiri,” ujar warga Wonosalam yang juga pegiat seni itu.


Reportase Abdul Wahab
Baca selengkapnya

Monday, December 26, 2016

Statistics Competition (STATION) 2017



Statistics Competition (STATION) 2017 merupakan kompetisi Statistika tingkat nasional yang diperuntukkan untuk siswa SMA/sederajat. Pada tahun 2017, STATION berfokus untuk memperkenalkan arti penting dan peran ilmu statistik terkait bidang ekonomi kreatif kepada generasi muda serta penyelesaian masalah ekonomi kreatif yang ada di Indonesia.

Tema
"Membentuk generasi muda yang unggul melalui pemahaman ilmu Statistika untuk kejayaan bangsa"

Tema ini diusung dengan harapan menstimulus generasi muda melalui ilmu statistika agar memiliki pola pikir kreatif dan jiwa kompetitif yang tinggi sebagai salah satu upaya pembangunan berkelanjutan negara Indonesia.

Syarat Pendaftaran
  • Peserta merupakan pelajar SMA/sederajat
  • Satu tim terdiri dari 2 siswa/i yang berasal dariSMA yang sama
  • Pesera boleh berasal dari tingkat kelas yang berbeda
Materi Perlombaan
  • Statistika Deskriptif
  • Matematika Dasar
  • Kombinatorika
  • Peluang
  • Matriks dan Vector
  • Program Linear
Region
Regional terbagi dalam regional online dan offline, regional offline terdiri dari beberapa daerah di Indonesia, yaitu :

a. Surabaya 
b. Gresik 
c. Malang 
d. Madiun 
e. Makassar 
f. Pamekasan 
g. Kediri 
h. Jember 
i. Tuban 
j. Solo 
k. Bandung 
l. Bali
m. Mojokerto
n. Bogor
o. Semarang
p. Jakarta
q. Mataram
r. Palembang
s. Banjarmasin

Tanggal Penting
Pendaftaran : 22 November 2016 – 15 Januari 2017
Penyisihan : 22 Januari 2017
Semi Final : 4 Februari 2017
Final dan Grand Final : 5 Februari 2017

Biaya Pendaftaran
Rp. 130.000,- / tim

Fasilitas
Konsumsi, Blocknote, sertifikat, ID Card, Gantungan Kunci, Sticker, Ballpoiint, Akomonasi, dan Company Visit untuk semifinalis

Tata Cara Pendaftaran
PENDAFTARAN ONLINE
  1. Peserta mengisi formulir pedaftaran disini
  2. Melakukan pembayaran pendaftaran via ATM atau teller sebesar Rp 130.000,-/tim ke
  3. No. Rekening : 0459594615 (BNI)
  4. a.n. Nanda Aulia Rizqi
  5. Melakukan konfirmasi atas pembayaran ke email pendaftaranstation2017@gmail.com dengan melampirkan bukti pembayaran dan scan kartu pelajar.
  6. Melakukan konfirmasi ke Ilma Zuhrotul Aini (082331286200) dengan format sms No.ID_Nama_Asal Sekolah.
  7. Peserta akan mendapat username dan password untuk mengakses soal penyisihan Online
PENDAFTARAN OFFLINE
  1. Peserta mengisi formulir pedaftaran yang dibagikan oleh panitia
  2. Menyerahkan formulir pendaftaran dan fotokopi kartu pelajar dan membayar biaya pendaftaran ke panitia masing-masing regional atau dengan datang langsung ke Jurusan Statistika, Gedung T lantai 1, ITS Sukolilo.
Informasi Tambahan 
Total Hadiah : Rp. 26.000.000,- + Piala Bergilir Kemendikbud + Golden Ticket (Free Pass Jurusan Statistika ITS khusus Juara 1)

*Semifinalis diambil berdasarkan ranking nasional dan regional

Contact Person
Trianto : +62896-9512-7236

For more information:Website: http://prs-its.com
Instagram: prs_its2017
Line: @aio5615v
Twitter: @prs_its2017
Email: prs@statistics.its.ac.id



Source:
Website Resmi PRS ITS - STATION 2017
Baca selengkapnya

Wednesday, September 14, 2016

P L E S I R ~ Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

Pengaruh Cheng Hoo sangat besar bagi masyarakat keturunan Tiongkok di Indonesia, sehingga banyak orang-orang China yang memeluk agama Islam.

Pada tahun 1700, di daerah Purbalingga, ada seorang tokoh Tionghoa yang terinspirasi perjuangan Cheng Hoo dan giat melakukan syiar Islam di daerahnya. Dia adalah Tan Shien Bhi.
Papan nama di depan masjid

Kapasitas keilmuan, budipekerti dan keimanan Tan Shie Bhi menjadi panutan warga Purbalingga, khususnya masyarakat Tionghoa, sehingga banyak yang memeluk agama Islam.

Pada 9 Maret 2003, berdiri Persatuan Islam Tionghoa (PITI), dan tahun 2005 mereka membangun masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam dengan peletakan batu pertama oleh bupati Purbalingga, Drs, H. Triyono Budi Santosa, M.Si. Namun pada tahun 2006 pembangunanmasjid itu berhenti total karena sesuatu hal.
Tanda tangan peresmian oleh H.A. Zaky Arslan Djunaid

Memasuki Agustus 2010, kabar mandegnya pembangunan mashid terdengar oleh H.A. Zaky Arslan Djunaid (Ketua Umum Kospin JASA) tergerak untuk melanjutkan pembangunan masjid itu.

Dan kini, masjid yang berdiri megah dengan arsitektur perpaduan Tiongkok dan Jawa ini bisa diwujudkan sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam di Purbalingga.
Di sekitar Masjid juga didirikan Yayasan Pendidikan


Suasana didalam Masjid


Kubah Masjid terlihat dari dalam




Penulis sedang berpose di halaman Masjid :)
Baca selengkapnya