Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

KH. Hasan Anwar, Karib Muassis NU Kelahiran Demak

Namanya mungkin tidak seterkenal KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah. Tapi, kiprahnya sangat dekat dengan ketiga tokoh pendiri atau muassis NU. Ia adalah teman sekaligus santri dari ketiga ulama besar tersebut.
Ia mempunyai andil sangat besar dalam membantu mendirikan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dan namanya hingga kini, sangat harum di Kabupaten Grobogan, Jateng. Nama kecilnya adalah Sarman.
Beliau dilahirkan pada tahun 1878 M, dari pasangan Syarif dan Salimah, petani kecil di Desa Ngluwuk, Dempet, Kabupaten Demak. Sarman memiliki empat orang saudara, yakni Sukir, Mataham, Sagirah, dan Sijah. Sarman merupakan nama pemberian kedua orang tuanya.
Namun, saat mondok di Tebuireng, namanya berubah menjadi Hasan Anwar. Nama itu diberikan langsung oleh Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari atas bantuannya dalam menghadapi para perusuh di sekitar pesantren.
Bela Mbah Hasyim
Awalnya, ia merasa prihatin yang mendalam atas banyaknya hinaan dan ejekan yang diterima KH Hasyim Asy’ari. Sebab, hampir setiap saat ulama pendiri jamiyah NU itu dilempari dengan kotoran manusia. Jalan-jalan di sekitar Pesantren Tebuireng selalu dipenuhi dengan duri.
Atas hal itu, Sarman memberanikan diri memohon izin kepada KH Hasyim Asy’ari untuk menghadapi para perusuh itu. Namun Mbah Hastim tidak mengizinkan. Ia pun bersabar dan menunggu perintah atau izin.
Apa hendak dikata, saat izin belum juga diberikan dan kondisi terus genting, terjadilah peristiwa yang membuat Sarman marah. Saat malam hari, ia keluar asrama pesantren untuk ke masjid.
Jalan yang akan dilewati Mbah Hasyim ia bersihkan. Saat itulah sekelompok preman dan perusuh menantang dirinya. Maka, dengan prinsip ‘lawan jangan dicari, dan kalau ketemu musuh maka jangan lari’, ia pun melawan perusuh.
Dalam perkelahian itu, sebanyak 12 orang perusuh tewas di tangannya. KH Hasyim yang kaget mendengar kegaduhan di luar, segera menemui. Mbah Hasyim mendapati tubuh Sarman bersimbah darah, dan sebanyak 12 orang tergeletak tak bernyawa di sekelilingnya.
Sarman tidak terluka. Hanya luka-luka dari perusuh itulah yang membuat tubuhnya berlumuran darah. Sarman menyampaikan bahwa dirinya membela diri, karena sedang membersihkan kotoran manusia dan duri di sepanjang jalan, dan tiba-tiba diajak berkelahi para perusuh.
Nama Hasan Anwar
Menyaksikan hal itu, KH Hasyim Asy’ari kemudian memerintahkan para santri untuk segera menguburkan jenazah para perusuh dalam satu lubang. Dan sejak kejadian tersebut, Mbah Hasyim menjuluki dan memberinya nama Hasan Anwar, yang berarti lelaki yang baik hati dan selalu bercahaya dalam kegelapan.
Ia adalah santri generasi pertama di Tebuireng. Hasan Anwar juga berteman baik dengan Maksum (KH Maksum), pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang, Jateng. Di Tebuireng, ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama, mulai dari fiqih, tafsir, nahwu, dan lainnya.
Namun, di saat KH Hasyim berhalangan, dirinya menjadi badal (pengganti) untuk mengajar santri dan rekan-rekannya. Sebelum mondok dan membantu di Pesantren Tebuireng, Hasan Anwar mondok di berbagai pesantren di Jawa Tengah.
Karena itu, tak heran ia banyak dimintai bantuan KH Hasyim Asy’ari, termasuk saat mendirikan NU pada 31 Januari 1926. Ia tinggal di Tebuireng selama beberapa tahun. Selepas dari pesantren legendaris tersebut, Hasan Anwar melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Jesromo Lumajang, dan Cempaka di Surabaya di bawah asuhan KH Manshur.
Selepas dari kedua pesantren itu, Hasan Anwar meneruskan ke Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura, yang diasuh KH Kholil. Tak kurang dari delapan tahun ia menuntut ilmu dan mengabdi di pesantren Bangkalan ini. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan di Makkah, selama lebih kurang tiga tahun.
Belajar di Tanah Suci
Di kota suci tersebut ia belajar langsung kepada para ulama terkenal dari Indonesia yang menjadi guru di Masjidil Haram, seperti Syekh Abdullah Sunkara, Syekh Ibrahim al-Huzaimi dan Syekh Manshur. Setelah dirasa cukup, ia pun kembali ke Tanah Air, ke kampung halamannya di Desa Ngluwak, Dempet, Demak.
Ternyata ayahandanya sudah wafat, sedangkan ibunya ikut dengan saudara kandung Hasan Anwar yang menikah dengan warga Gubug, Purwodadi, Grobogan. Di Gubug ini, KH Hasan Anwar membantu Kiai Jalil (Jalal) untuk mengajar mengaji warga sekitar di mushala, tepatnya di sebalah timur Pasar Gubug.
Melihat ketekunan KH Hasan Anwar dalam mengajar mengaji, Kiai Jalil berkenan mengambil menjadi menantu. Ia pun menikah dengan salah seorang putri Kiai Jalil. Hingga akhir hayatnya, KH Hasan Anwar menikah dengan tiga orang istri, yakni Kalimah binti Kiai Marwi, Maemunah binti Kiai Samsuri, dan Muntamah binti Kiai Abdul Jalil (Jalal).
Pernikahannya dengan Kalimah tidak dikaruniai anak, sedangkan dengan Maemunah memiliki tujuh orang putra-putri (Mahfudhoh, Mansuron, Sarijah, Ruqoyah, Saerozi, Juned, dan Romlah). Adapun buah pernikahan dengan Muntamah mendapat empat putra-putri, yakni Ahmad Syahid (yang kelak menjadi penerus perjuangan KH. Hasan Anwar), Zaenudin, Khumaidi, dan Saidah.
Pejuang Kemerdekaan
Kebencian KH Hasan Anwar terhadap penjajah Belanda sudah memuncak. Ia tak tahan melihat rakyat Indonesia dihina dan dijajah. Bersama para santri di Gubug, ia menyerang Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, khususnya di Grobogan.
Belanda yang mengetahui maksud tersebut berusaha membujuk dan bekerja sama. Ajakan itu ditolak, dan Belanda pun marah. Mereka ingin menjeblos KH Hasan Anwar ke penjara. Karena tahu kalau dirinya akan ditangkap Belanda, ia pergi ke pesantren di daerah Klambu.
Bersama sejumlah santri dan laskar fi sabilillah, KH Hasan Anwar menyusun kekuatan untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi yang sudah merdeka pada 17 Agustus 1945. Ratusan pasukan Belanda terbunuh.
Sayang, kekuatan tidak seimbang. Pertempuran yang terjadi di dekat markas Belanda itu, beliau gugur bersama 19 orang laskar fi sabilillah. Beliau wafat sebagai syuhada dengan menyungging senyum.
Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahi dengan gelar Pahlawan Pejuang Kemerdekaan. Namanya sangat harum hingga saat ini. Masyarakat Tionghoa di sekitar Gubug sangat mengagumi ketokohannya. Sebab, atas jasanya, warga Tionghoa merasakan hidup damai dan tenteram dari gangguan perampok.
Banyak cerita karomah seputar KH Hasan Anwar yang melegenda di Gubug. Konon, ia memiliki harimau. Setiap kali bersilaturahim dengan gurunya, Syekh Ibrahim, harimau itu selalu menyertai. Ia bahkan mengendarai harimau tersebut.
Tak jarang, Syekh Ibrahim mengingatkannya untuk tidak menambatkan harimau itu secara sembarangan, sebab khawatir akan melukai para santri. Namun tak banyak yang melihat harimau itu secara kasat mata. Hanya orang tertentu yang bisa menyaksikan. Wallahu a’lam.


Sumber: www.pwnujatim.or.id
Baca selengkapnya

Thursday, November 30, 2017

Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wasallam


Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi'ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad saw sudah semakin dekat, Allah Subhanahu Wata'ala semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad Shallahu 'Alaihi Wasallam.

Pada Malam Pertama (ke 1) :
Alloh melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Baca selengkapnya

Tuesday, January 3, 2017

Gitu Aja Kok Repot!

Desain oleh Fuadla
Bulan Desember kemarin, adalah bulan haul Gus Dur ke-7. Sudah cukup lama kita ditinggalkan beliau. Meski aku belum pernah ketemu secara langsung dengan beliau. Tapi nasehat dan petuahnya sangat mengena, dalam pribadiku.

Ketika beliau wafat, tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. Aku masih duduk di kelas tiga  Tsanawiyah, setara dengan SMP. Waktu itu aku liburan di pesantren, tak pulang. Kegelisahannku pun memuncak ketika mendengar kabar bahwa kiai kharismatik, Gus Dur, meninggal dunia.

Semenjak lulus dari sekolah dasar aku sudah suka menulis, tentang apa saja. Untuk menenangkan kegelisahaan, aku tuangkan saja pada sebuah 'mini' tulisan. Dan sengaja aku kirim ke Jawapos, kolom Gagasan. Alhamdulillah, dimuat pada awal bulan.
Kliping Jawapos

Dan pada haulnya ke-7 ini. aku mengikuti kontes desain yang diadakan Santri Design Community. Alhamdulillah, belum dianugerahi sebagai juara, hehehe....
Gitu Aja Kok Repot!!! Sekian.





Baca selengkapnya

Wednesday, September 14, 2016

ROAN=IJAZAH PADANG ATI

Sebuah tradisi yang sangat melekat dalam masyarakat pesantren, tradisi yang saat ini mungkin sebagian pesantren masih melanggengkannya, yaitu Roan atau kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren.
Kegiatan yang entah kapan mulai dikenal ini, mungkin berpuluh atau berabad tahun yang lalu. Sudah sangat kental dalam dunia pesantren. Bahu membahu untuk menjadikan tempat tinggal belajar mereka terasa nyaman untuk di singgahi.
Dalam perkembangannya sampai saat ini, apakah kegiatan ini masih berjalan dengan penuh keikhlasan dari para pelakunya, demi pengabdiannya terhadap pesantren?
Ah, mungkin hal itu hanya di ketahui mereka yang hatinya mau meresapi tanpa kekolotan otak.

Baca selengkapnya

HARUS BELAJAR, BELAJAR DAN BELAJAR!

 Oleh: Fuad Lathif
Salah satu pelajaran paling berharga yang dapat kita saksikan dalam dunia kesuksesan adalah semut. Ia tak henti-hentinya mencoba dan mencoba lagi tanpa kenal lelah dan bosan sebelum ia mencapai pada tujuannya.
Ketika merayap menaiki sebuah pohon lalu terjatuh, ia akan bangkit dan naik lagi. Ketika jatuh lagi, ia akan mengulanginya kembali. Begitu seterusnya sampai akhirnya berhasil mencapai puncak pohon dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Hal itu dilakukannya tanpa merasa lelah dan bosan. Apabila jalan yang dilaluinya terhalang sesuatu, ia akan berbelok ke kanan atau ke kiri. Apabila pohon atau benda yang akan dinaikinya terasa sulit, ia akan mundur sejenak untuk mengatur strategi dan mengumpulkan tenaga yang lebih kuat daripada sebelumnya, lalu mencoba naik kembali.

Baca selengkapnya

P L E S I R ~ Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

Pengaruh Cheng Hoo sangat besar bagi masyarakat keturunan Tiongkok di Indonesia, sehingga banyak orang-orang China yang memeluk agama Islam.

Pada tahun 1700, di daerah Purbalingga, ada seorang tokoh Tionghoa yang terinspirasi perjuangan Cheng Hoo dan giat melakukan syiar Islam di daerahnya. Dia adalah Tan Shien Bhi.
Papan nama di depan masjid

Kapasitas keilmuan, budipekerti dan keimanan Tan Shie Bhi menjadi panutan warga Purbalingga, khususnya masyarakat Tionghoa, sehingga banyak yang memeluk agama Islam.

Pada 9 Maret 2003, berdiri Persatuan Islam Tionghoa (PITI), dan tahun 2005 mereka membangun masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam dengan peletakan batu pertama oleh bupati Purbalingga, Drs, H. Triyono Budi Santosa, M.Si. Namun pada tahun 2006 pembangunanmasjid itu berhenti total karena sesuatu hal.
Tanda tangan peresmian oleh H.A. Zaky Arslan Djunaid

Memasuki Agustus 2010, kabar mandegnya pembangunan mashid terdengar oleh H.A. Zaky Arslan Djunaid (Ketua Umum Kospin JASA) tergerak untuk melanjutkan pembangunan masjid itu.

Dan kini, masjid yang berdiri megah dengan arsitektur perpaduan Tiongkok dan Jawa ini bisa diwujudkan sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam di Purbalingga.
Di sekitar Masjid juga didirikan Yayasan Pendidikan


Suasana didalam Masjid


Kubah Masjid terlihat dari dalam




Penulis sedang berpose di halaman Masjid :)
Baca selengkapnya

Thursday, December 4, 2014

MENULIS, MENJADIKAN AWET MUDA

Dalam tak kesengajaan saya, saat saya ikut pengajian diniyah di pesantren. Ada salah seorang guru kelas lain menerangkan dengan suara keras. Begini keterangan yang di ucapkan, "ilmu adalah amanat", selang beberapa detik ada keterangan lagi yang tak sengaja masuk ke telinga saya, ilmu agar ndak hilang ya diamalkan.

Dalam tak kesengajaan saya lagi, pikiran ini berpikir tanpa kemudi. Ternyata ilmu adalah amanat. Dan yang saya ketahui, kalau kita diamanati sesuatu harus disampaikan.

Kita yang menempuh pendidikan. Baik itu di pesantren, sekolah, perkuliahan ataupun yang lain. Pernahkah kita melakukan sesuatu yang membuat ilmu kita tersalurkan kepada orang lain? Saya tak mau menebak sembarangan. Diri sendiri yang mengetahuinya, dan tentunya Allah Subhanahu Wata'la.

Dalam wacana yang pernah saya ketahui, bahwa menulis merupakan salah satu dari penyaluran ilmu. Dan kalau kita menulis dengan niat menyalurkan ilmu, maka akan banyak orang yang mendapatkan ilmu dari yang kita tulis. Andai saja banyak orang yang dapat dan mau menulis, dalam hal ini adalah menulis dari buah pikiran, bukan menulis yang dianggap seperti anak TK. Mungkin kesemuanya itu sudah banyak yang berilmu. Tapi hal ini bukanlah ukuran yang pasti.

Kalau kita mau menengok ke 'ulama salaf. Banyak dari mereka yang membuahkan karya. Tak hanya karya biasa, tapi karya yang sangat bermanfaat hingga berabad tahun selanjutnya. Itu semua karena mereka berilmu dan mau menyalurkan.

Banyak cuplikan ataupun ucapan senior saya tentang tulis menulis. Bagi yang ingin kaya, maka menulislah, maka anda akan menjadi kaya. Kaya disini bisa dikategorikan sebaai kaya secara materi atau kaya hati. Karena seperti kutipan dari penulis Amerika, entah siapa namanya, saya lupa, menulis bisa membuat awet muda. Oleh karena itu, tulis apa yang kau pikirkan, dan lakukan apa yang kau tulis. Salam sukses.

*) Pernah dimuat buletin Alfannan PP. MUS-YQ Kudus edisi XII / Rajab 1433 H.

Baca selengkapnya

Tuesday, February 4, 2014

KITA BENTO DALAM PENDIDIKAN

KITA BENTO DALAM PENDIDIKAN


Saat ini keadaan politik kita sudah gamblang di mata masyarakat. Yaitu politik yang tak dapat memberi teladan dan tak mempunyai rasa amanah yang tinggi. Dan rasa kejengkelan masyarakat yang memuncak pun sudah tak bisa dijadikan sebagai obat.
Para mahasiswa, profesor, ataupun yang lebih tinggi posisinya, sudah banyak yang menuliskan  isi hati mereka di berbagai media masa. Saking banyaknya, tulisan-tulisan tersebut memicu kalangan lain untuk menyampaikan uneg-unegnya.
Di negara tercinta kita, Indonesia, mempunyai semboyan yang sangat ‘adil’ dan ‘bijaksana’. Sejak usia sekolah dasar kita sudah di perkenalkan oleh guru kita. Itulah semboyan yang disebut dengan BhinekaTungal Ika, yang mempunyai arti, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

***

Seperti penjelasan yang telah di uraikan penulis diatas. Bahwa negara kita ini mempunyai semboyan yang —secara tidak langsung— menunjukan kalau negara ini terdiri dari berbagai bentuk manusia, suku, agama, ras, etnis dan lain sebagainya.
Dan disini penulis merupakan kalangan yang mengaku ‘diangggap’ banyak orang—kalangan menengah ke bawah. Berkeinginan untuk memberi sedikit pepeling kepada segenap pembaca yang budiman.
Baca selengkapnya